cursor

Senin, 18 April 2016

Makalah Perkembangan Anak Tingkat SMA


BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
            Masa SMA yang memiliki rentan usia 15-18 tahun bisa dikatakan merupakan masa peralihan seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau yang lebih sering kita kenal dengan istilah masa remaja. Masa remaja merupakan suatu tahap transisi menuju ke status yang lebih tinggi yaitu status sebagai orang dewasa. Masa-masa ini dapat dikatakan sebagai masa badai bagi seseorang, dimana akan terjadi perombakan besar terhadap hidupnya, sehingga dalam fase ini benar-benar dibutuhkan peran orang tua, peran guru, peran lingkungan, dan peran teman-teman sebayanya untuk membawa dia ke ranah positif dari kehidupan. Pemberian penyuluhan kepada si remaja mengenai tahap-tahap perkembangannya sangat penting untuk memastikannya agar tidak salah langkah. 
B.                 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan karakteristik anak tingkat SMA?
2.      Apa kebutuhan anak tingkat SMA, masalah, dan konsekuensinya?
3.      Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak tingkat SMA?
4.      Bagaimana cara mendukung perkembangan anak tingkat SMA?
C.                Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui perkembangan karakteristik anak tingkat SMA.
2.      Untuk mengetahui kebutuhan anak tingkat SMA, masalah, dan konsekuensinya.
3.      Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perkembangan anak tingkat SMA.
4.      Untuk mengetahui cara mendukung perkembangan anak tingkat SMA.



BAB II
PEMBAHASAN
A.                Perkembangan Karakteristik Anak Tingkat SMA
Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari pematangan.  Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa per- kembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan kuantitatif dan kualitatif dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, sampai masa dewasa (Syamsu dan Nani, 2011: 1).
Masa remaja disebut juga adolescence, yang dalam bahasa latin berasal dari kata adolescere, yang berarti “to grow into adulthood”. Adolesen merupakan periode transisi dari masa anak ke masa dewasa, dalam mana terjadi perubahan dalam aspek biologis, psikologis, dan sosial. Menurut Laurence Steinberg (2002) (Syamsu dan Nani, 2011: 78) ada tiga perubahan fundamental pada masa remaja yaitu sebagai berikut.
1.      Biologis, seperti mulai matangnya alat reproduksi, tumbuhnya buah dada pada anak wanita, dan tumbuhnya kumis pada anak pria.
2.      Kognisi, yaitu kemampuan untuk memikirkan konsep-konsep yang abstrak (seperti persaudaraan, demokrasi, dan moral), dan mampu berpikir hipotetis (mampu memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi berdasarkan pengalamannya).
3.      Sosial, yaitu perubahan dalam status sosial yang memungkinkan remaja (khususnya remaja akhir) masuk ke peran-peran atau aktivitas-aktivitas baru, seperti bekerja, atau menikah.
Perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu yaitu proses yang menuju kedepan dan tidak dapat diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi. Berikut merupakan perkembangan karakteristik dari siswa SMA:
a.       Perkembangan Fisik
Pada masa remaja, pertumbuhan fisik mengalami perubahan lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa. Pada fase ini remaja memerlukan asupan gizi yang lebih, agar pertumbuhan bisa berjalan secara optimal. Perkembangan fisik remaja jelas terlihat pada tungkai dan tangan, tulang kaki dan tangan, serta otot-otot tubuh berkembang pesat.
b.      Perkembangan Kognitif (Berpikir)
Hal ini menyangkut tentang hubungan sebab akibat. Remaja sudah mulai berfikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya sebagai anak kecil. Mereka tidak akan terima jika dilarang melakukan sesuatu oleh orang yang lebih tua tanpa diberikan penjelasan yang logis. Misalnya, remaja makan didepan pintu, kemudian orang tua melarangnya sambil berkata “pantang”. Sebagai remaja mereka akan menanyakan mengapa hal itu tidak boleh dilakukan dan jika orang tua tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan maka dia akan tetap melakukannya. Apabila guru/pendidik dan orang tua tidak memahami cara berfikir remaja, akibatnya akan menimbulkan kenakalan remaja berupa perkelahian antar pelajar.
Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
c.      Perkembangan Identitas Diri (Self- Identity)
Identitas diri merupakan potret diri yang meliputi berbagai hal (Santrock, 2008) (Syamsu dan Nani, 2011: 95) sebagai berikut.
a.       Vocational/career identity, yaitu karier atau pekerjaan yang diinginkan oleh seseorang untuk menjalaninya.
b.      Political identity, yaitu arah sikap politik seseorang, seperti apakah konservatif, atau liberal.
c.       Religious odentity, yaitu keyakinan spiritual seseorang.
d.      Relationship identity, yaitu terkait dengan status seseorang apakah lajang, sudah nikah, atau bercerai.
e.       Achievement, intellectual identity, yaitu motivasi seseorang untuk berpretasi atau mencapai tingkat intelektualitas yang tinggi.
f.       Sexual identity, yaitu menyangkut orientasi seksual seseorang, apakah heteroseksual, homoseksual, atau biseksual.
g.      Cultural/ethnic identity, yaitu terkait dengan warisan budaya yang menjadi rujukan identifikasi seseorang secara intensif.
h.      Interest identity, yaitu sesuatu yang disenangi seseorang untuk melakukannya, seperti olahraga, musik dan hobi.
i.        Personality identity, yaitu terkait dengan karakteristik kepribadian individu, seperti introvert atau extrovert, cemas atau tenang, bersahabat atau bermusuhan.
j.        Physical identity, yaitu citra individu terhadap tubuhnya.
Kapan identitas diri individu berkembang? Identitas diri berkembang pada usia remaja, pada tahap perkembangan kelima, yaitu identity vs identity confusion (kebingungan identitas/peran). Identitas sebagai konsepsi tentang diri, penentuan tujuan nilai, dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang. Tugas utama remaja adalah memecahkan krisis identitas, untuk dapat menjadi orang dewasa yang memahami dirinya secara utuh, dan memahami perannya di masyarakat.
d.     Perkembangan Emosional
Emosi pada remaja masih labil, karena erat hubungannya dengan keadaan hormon. Mereka belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Dalam satu waktu mereka akan kelihatan sangat senang sekali tetapi mereka tiba-tiba langsung bisa menjadi sedih atau marah. Contohnya pada remaja yang baru putus cinta atau remaja yang tersinggung perasaannya. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran yang realistis. Saat melakukan sesuatu mereka hanya menuruti ego dalam diri tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.
Perkembangan Peserta Didik Periode Sekolah Menengah Atas (SMA) Psikolog memandang anak usia SMA sebagai individu yang berada pada tahap yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka disebut sebagai orang dewasa, mereka secara riil belum siap menyandang predikat sebagai orang dewasa.
e.      Perkembangan Moral
Salah satu pola hubungan sosial remaja diwujudkan dengan membentuk satu kelompok. Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik pada kelompok sebayanya sehingga tidak jarang orang tua dinomorduakan, sedangkan kelompoknya dinomorsatukan. Contohnya, apabila seorang remaja dihadapkan pada suatu pilihan untuk mengikuti acara keluarga dan berkumpul dengan teman-teman, maka dia akan lebih memilih untuk pergi dengan teman-teman.
Pola hubungan sosial remaja lain adalah dimulainya rasa tertarik pada lawan jenisnya dan mulai mengenal istilah pacaran. Jika dalam hal ini orang tua kurang mengerti dan melarangnya maka akan menimbulkan masalah sehingga remaja cenderung akan bersikap tertutup pada orang tua mereka. Anak perempuan secara biologis dan karakter lebih cepat matang daripada anak laki-laki.
f.      Perkembangan Kepribadian
Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak. Karena apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini amatlah penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan. Disinilah pentingnya orangtua memberikan penanaman nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal-hal fisik seperti materi atau penampilan.
B.                 Kebutuhan Anak Tingkat SMA, Masalah, dan Konsekuensinya
Usaha penemuan jati diri remaja dilakukan dengan berbagai pendekatan, agar ia dapat mengaktualisasi diri secara baik. Menurut Sunarto dan Agung (1995: 55), aktualisasi diri merupakan bentuk kebutuhan untuk mewujudkan jati dirinya. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklarifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu:
a)     kebutuhan organik, seperti makan, minum, bernafas, seks;
b)    kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari fihak lain, dikenal dengan n’Aff;
c)     kebutuhan berprestasi atau need of achievement (yang dikenal dengan n’Ach), yang berkembang karena didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukkan kemampuan psikofisis;
d)    kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Beberapa masalah dan konsekuensinya yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut:
1)     Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan perilaku dewasa tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan. Pada masa ini remaja menghadapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan perilaku yang besar, sedang di lain pihak harapan ditumpukan pada remaja muda untuk dapat meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Kegagalan dalam mengatasi ketidakpuasan ini dapat mengakibatkan menurunnya harga diri, dan akibat lebih lanjut dapat menjadikan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri, pendiam atau harga diri kurang.
2)     Seringkali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi. Ketidakserasian proporsi tubuh ini sering menimbulkan kejengkelan, karena ia (mereka) sulit untuk mendapatkan pakaian yang pantas, juga hal itu tampak pada gerakan atau perilaku yang kelihatannya wagu dan tidak pantas.
3)     Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan perilaku yang menentang norma. Pandangannya terhadap sebaya lain jenis kelamin dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan. Bagi remaja laki-laki dapat berperilaku yang “menentang norma” dan bagi remaja perempuan akan  berperilaku “mengurung diri” atau menjauhi pergaulan dengan sebaya lain jenis. Apabila kematangan seksual itu tidak mendapatkan arahan atau penyaluran yang tepat dapat berakibat negatif. Konsekuensi yang diderita sering berbentuk pelarian yang bertentangan dengan norma susila dan sosial, seperti homoseksual, lari ke kehidupan “hitam” atau melacur, dan semacamnya. Bagi remaja pria secara berkelompok kadang-kadang mencoba pergi bersama-sama ke lokasi “berlampu merah” atau lokasi WTS.
4)     Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian, dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian emosional, seperti perilaku yang terlalu over acting, “lancang”, dan semacamnya. Kehidupan bermasyarakat banyak menuntut remaja untuk banyak menyesuaikan diri, namun yang terjadi tidak semuanya selaras. Dalam hal yang terjadi ketidakselarasan antara pola hidup masyarakat dan perilaku yang menurut para remaja baik, hal ini dapat berakibat kejengkelan. Remaja merasa selalu “disalahkan” dan akibatnya mereka frustasi dengan tingkah lakunya sendiri.
5)     Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara sosial ekonomis, akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi oleh remaja. Mereka bukan saja harus menghadapi satu arah kehidupan, yaitu keragaman norma dalam kehidupan bersama dalam masyarakat, tetapi juga norma baru dalam kehidupan sebaya remaja dan kuatnya pengaruh kelompok sebaya.
6)     Berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja, sedang di pihak remaja merasa memiliki nilai dan norma kehidupannya yang dirasa lebih sesuai. Dalam hal ini para remaja menghadapi perbedaan nilai dan norma kehidupan. Menghadapi perbedaan norma ini merupakan kesulitan tersendiri bagi kehidupan remaja. Sering kali perbedaan norma yang berlaku dan norma yang dianutnya menimbulkan perilaku yang menyebabkan dirinya dikatakan “nakal”.
C.                 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Tingkat SMA
1.    Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.
2.     Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya.
3.     Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
4.     Kapasitas Mental, Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak  hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi berpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.
5.    Faktor Teman Sebaya
Semakin bertambah umur, si anak semakin memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengadakan hubungan dengan teman-teman sebayanya, sekalipun dalam kenyataannya perbedaan-perbedaan umur yang relatif besar tidak menjadi sebab tidak adanya kemungkinan melakukan hubungan-hubungan dalam suasana bermain.
Anak yang bertindak langsung atau tidak langsung sebagai pemimpin, atau yang menunjukkan ciri-ciri kepemimpinan dengan sikap-sikap menguasai anak-anak lain, akan besar pengaruhnya terhadap pola-pola sikap atau pola-pola kepribadian. Konflik-konflik terjadi pada anak bilamana norma-norma pribadi sangat berlainan dengan norma-norma yang ada di lingkungan teman-teman. Di satu pihak ia ingin mempertahankan pola-pola tingkah laku yang diperoleh di rumah, sedangkan di pihak lain lingkungan menuntut si anak untuk memperlihatkan pola yang lain, yang bertentangan dengan pola yang sudah ada, atau sebaliknya.
6.    Keragaman Budaya
Bagi perkembangan anak didik, keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mental dan moral mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembang di masyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah prilaku yang negatif.
7.    Media Massa
Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat merubah atau mempengaruhi prilaku masyarakat melalui proses-proses. Media massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media massa, seorang anak dapat mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang ke arah positif dan negatif. Contoh media massa yang sangat berpengaruh adalah media massa yang saat ini berkembang semakin canggih. Semakin canggih suatu media massa maka akan semakin terasa dampaknya bagi kehidupan kita. Contohnya televisi, televisi sangat mudah mempengaruhi masyarakat, khususnya anak-anak yang dalam perkembangan melalui acara yang disiarkan.
D.                Cara Mendukung Perkembangan Anak Tingkat SMA
Untuk mendukung perkembangan anak tingkat SMA dan mencegah terjadinya kebingungan identitas, maka pihak orang tua di lingkungan keluarga, guru di lingkungan sekolah dan orang dewasa lainnya di lingkungan masyarakat hendaknya melakukan hal-hal berikut.
a.     Memberi contoh atau teladan tentang sikap jujur dan bertanggung jawab dalam menjalankan perannya masing-masing.
b.    Menciptakan iklim kehidupan sosial yang harmonis, jauh dari gejolak atau konflik.
c.     Menciptakan lingkungan hidup yang bersih, tertib, sehat dan indah.
d.     Memberikan kesempatan kepada remaja untuk berpendapat, mengajukan gagasan, atau berdialog.
e.     Memfasilitasi anak untuk mewujudkan kreativitasnya, baik dalam bidang olahraga, seni, maupun bidang keilmuan.
f.     Memberikan informasi kepada anak tentang orang-orang sukses, dan bagaimana proses mencapai kesuksesannya tersebut.
g.    Menampilkan perilaku yang sesuai dengan karakter atau nilai-nilai akhlak mulia.
h.     Memberi contoh dalam bersikap dan berperilaku yang terkait dengan nilai-nilai budaya cinta tanah air, patriotisme, dan nasionalisme.





BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Masa remaja bisa dikatakan sebuah masa penuh badai yang harus dilewatinya untuk mengarungi samudera kehidupan. Jika ia berhasil melewati badai tersebut maka dipastikan ia akan selamat atau dalam artian telah berhasil dalam menjalani kehidupan, namun jika ia malah terseret dalam badai itu maka ia tidak akan selamat.
Pengembangan karakter itu sendiri tidak dapat berjalan dengan mudah maupun semulus seperti yang diharapkan, dibutuhkan sebuah perjuangan bukan hanya dari remaja itu sendiri tapi juga dari lingkungan dan orang-orang sekitar untuk membentuk sebuah karakter dari individu tersebut. Dalam kasus ini peran dari remaja itu memang penting tapi kita juga tidak bisa melupakan peran dari orang tua, guru, teman sebaya, juga masyarakat yang selama ini berada disekitarnya. Sebuah karakter akan terbentuk dari sebuah proses yang panjang, dan karakter itu sendiri akan terbentuk sesuai dengan komponen-komponen yang telah membentuknya. Jika komponen-komponen pembentuknya baik maka karakter yang baiklah yang aakan terlahir, dan sebaliknya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa di usia SMA ini merupakan fase metamorphosis seorang anak menjadi sosok yang lebih dewasa, diperlukan cara-cara dan faktor-faktor pendukung untuk keberhasilan dalam fase pengembangan karakter ini.
B.                 Saran
Dengan adanya makalah ini, pembaca dapat memahami tentang karakteristik yang terdapat pada anak tingkat SMA, kebutuhannya dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan serta cara mendukung perkembangan anak tingkat SMA. Saya berharap pembaca dapat menyerap ataupun mengambil nilai positif yang ada dalam makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA
Hartinah, Sitti D.S. 2008. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama.
Husdarta, JS. & Dr. Nurlan Kusmaedi. 2010. Pertumbuhan & Perkembangan Peserta Didik (Olahraga dan Kesehatan). Bandung: Alfabeta.
L.N, Syamsu Yusuf & Nani M. Sugandhi. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rajawali Pers.
Rich, Dorothy. 2008. Sukses Untuk Anak-anak Sekolah Menengah. (alih bahasa: Tribudhi Sastrio). Jakarta: PT Indeks.
Sunarto & Dra. Ny. B. Agung Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


3 komentar: